Cenderawasih

Burung Cenderawasih oleh Masyarakat diTanah papua menganggapnya sebagai hewan  kebanggaan yang selalu di junjung tinggi keunikannya, Cenderawasih juga merupakan lambang kebesaran bagi pemimpin di papua untuk mengenakannya sebagai identitas diri  pemimpin yang berbeda kapasitasnya dengan masyarakat yang lain.

Mama Zilfa Ikari (Istri Ondoafi Ormu Necheibe)

Mama Zilfa Ikari, Istri Ondoafi Kampung Ormu Necheibe Distrik Ravenirara dalam kunjungan Tim Kajian Lembaga Adat  Menjelaskan bahwa Burung Cenderawasih yang selama ini di gunakan di kepala sebagai lambang kebesaran oleh actor-actor tertentu,atau oleh para pebisnis yang menjualnya sebagai bahan kerajinan tangan untuk mendapatkan keuntungan itu tidak benar, Cenderawasih sesuai budaya hanya ada di kepala Pemimpin (Ondoafi) apa lagi burung cenderawasih di gunakan sebagai Cenderamata ada juga di jadikan bahan untuk bisnis,ada pula di jadikan media untuk menobatkan Orang yang berbudaya lain dengan memberikan  jabatan, ada juga makota burung cenderawasih di pakai oleh masyarakat luas (Anak-anak Adat sendiri) tanpa memiliki jabatan sebagai ondoafi, yang paling buruk lagi burung cenderawasih itu dikenakan pada kepala wanita dalam momen-momen tertentu.

Makota Burung Cederawasih

Menurut Mama Ondo Zilfa Ikari, ini hal yang keliru dan ini sudah jelas-jelas merusak budaya di papua secara khsus budaya orang tabi, budaya kami jelas bahwa Kedudukan Perempuan Beda dengan Laki-laki, duduk sama-sama di rumah adat saja suda tidak bisa apalagi menggunakan lambang pemimpin, ini keliru, saya berharap untuk kaum perempuan tabi kenali adat istiadat dan  tidak boleh tambah merusak budaya kita lagi.

Disinggung soal Kedudukan dan Hak Perempuan dalam adat mama Zilfa menjelaskan bahwa sudah ada aturan dalam tatanan adat secara langsung dari nenek maoyang, walaupun tidak tertulis tetapi itu sudah jadi kebiasaan secara turun-temurun, Perempuan tidak boleh duduk sama-sama dengan laki-laki diatas para-para atau rumah adat itu bukan berarti  perempuan dianggap rendah atau tidak punya hak, tetapi ada bagian-bagian lain yang membuat perempuan dilarang ke lokasih atau tempat yang dukususkan untuk musyawarah atau tempat sacral lainnya. Ada benda-benda sacral  disitu atau pembahasan-pembahasan khusus yang menyebutkan nama-nama sacral itu, dengan sendirinya hubungan manusia dengan alam langsung konek, nah perempuan dilarang ada disitu karena ada bagian-bagian pantangan yang akan mengakibatkan perempuan tidak bisa hamil atau perempuan tidak bisa memberikan keturunan, sebenarnya secara budaya ini penghormatan terhadap perempuan untuk hidup sesuai kodratnya. Hak berbicara juga tetap ada, tetapi karena hal-hal pantangan tersebut, sehingga untuk menyampaikan isi hati perempuan, itu ada perwakilan laki-laki yang mewakilinya,hanya saja dalam prakteknya perempuan sering dibilang tidak bisa ambil bagian dalam musywarah itu alasannya, bukan perempuan tidak terlibat karena dianggap rendah. tutur mama Ondo kepada Tim kajian Lembaga Adat di Kapung Necheibe Kabupaten Jayapura. (Yau)

 

PEREMPUAN DILARANG MEMAKAI MAKOTA BURUNG CENDERAWASIH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *